Sederet Kisah Unik soal Fetish, Jadi Miliarder, Hingga Infeksi Paru-Paru

Suara.com - Fetish kini menjadi pembicaraan heboh media sosial. Fantasi ini dianggap kelainan, karena hasrat seksual yang terdorong jika melihat objek yang disukainya, misal kaki lawan jenis, atau bau kaos kaki lawan jenis untuk memenuhi hasrat seksualnya.

Lalu kapan seseorang dinyatakan fetish? apakah minta foto kaki disebut fetish?

"Fetish ini udah jadi gangguan (disorder) apabila orang tersebut tidak bisa terangsang atau mencapai kepuasan seksual tanpa ada objek yang jadi fetishnya, jadi harus ada object fetishnya di sana," seru Psikolog Inez Kristianti M.Psi saat dihubungi Suara.com, Rabu (19/12/2018).

Bicara fetish, ada beberapa kisah unik seputar fetish. Perempuan asal London bernama Roxy Sykes (33 tahun) mengaku menjadi miliarder usai menjual kaos kaki bekas pakainya dan belum dicuci. Duh, siapa pembelinya ya?

Mengutip Mirror, ternyata Roxy mencium bisnis yang bergerak di bidang "fetish" ini usai temannya menilai kakinya indah.

Selama setahun, Roxy akui bisa menghasilkan pendapatan sampai 100.000 pound sterling per tahun atau sekitar Rp 1,9 miliar hanya dari menjual kaos kaki bekas pakainya.

Roxy yang merupakan seorang investor biasa menjual kaos kaki kotor seharga Rp 390.000 sepasang dan Rp 3,9 juta untuk sepasang sepatu berkeringat.

Lain cerita dengan Roxy, seorang lelaki asal Zhangzhou, Tiongkok malah mengalami nasib sial. Ia masuk rumah sakit lantaran kena infeksi paru-paru karena kebanyakan mencium aroma kaos kaki kotor miliknya.

Kata dokter, masalah kesehatan tersebut terjadi karena adanya spora yang menyebabkan paru-paru laki-laki tersebut mengalami infeksi.

Lelaki tersebut diketahui memiliki fetish yang aneh. Ia selalu mengendus kaos kaki kotornya sendiri setiap hari setelah pulang bekerja.

Kini lelaki itu sedang menjalani pengobatan insentif di rumah sakit.

Itulah kisah unik soal Fetish.

Baca Juga

Let's block ads! (Why?)

Baca Kelanjutan Sederet Kisah Unik soal Fetish, Jadi Miliarder, Hingga Infeksi Paru-Paru : https://ift.tt/2CmM2CU

Kebanyakan Makan Mi Instan, Ini Dampaknya Bagi Tubuh

Suara.com - Mi instan menggoda dengan bermacam varian rasa unik yang juga enak. Namun tahukah Anda bahwa kebanyakan makan mi instan punya dampak buruk bagi tubuh ?

Pertama-tama, Anda harus paham bahwa kandungan gizi dan nutrisi pada mi instan sama sekali tidak berguna bagi tubuh, karena hanya mengandung karbohidrat dan garam.

Dalam satu porsi mi instan, terdapat 1.100 mg sodium yang Anda konsumsi. Ini ternyata melebihi anjuran asupan sodium untuk satu orang dalam satu hari.

Sodium inilah yang bisa mengganggu proses pencernaan makanan di dalam tubuh. Ketika banyak sodium masuk ke dalam tubuh, secara otomatis air akan tertahan. Inilah penyebab lesu dan kembung yang dirasakan usai makan mi instan.

Mi instan juga minim kandungan serta, protein, dan hanya mengandung karbohidrat dalam jumlah besar.

Seperti yang sudah diketahui bersama, konsumsi karbohidrat terlalu banyak bisa membuat nafsu makan meningkat, dan gula darah naik.

Alhasil, berat badan pun akan ikut mengalami kenaikan. Bukan asal sebut, penelitian yang dilakukan oleh Dr Braden Kuo dari Massachusetts General Hospital pada tahun 2012 membuktikan hal ini.

Penelitian lainnya yang dilakukan oleh Harvard School of Public Health kepada wanita yang mengonsumsi ramen menyebut dampak mi instan juga berpengaruh terhadap sistem metabolisme.

Sekitar 68 persen responden yang doyan makan ramen mengalami sinrom metabolik, yakni sindrom yang meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes.

Ingin tahu informasi lebih banyak soal dampak kebanyakan makan mi instan, simak di HiMedik ya!

Baca Juga

Let's block ads! (Why?)

Baca Kelanjutan Kebanyakan Makan Mi Instan, Ini Dampaknya Bagi Tubuh : https://ift.tt/2ECaJ0j

MInta Foto Kaki Perempuan, Apakah Termasuk Foot Fetish?

Ibu, Lakukan Ini Agar Keamanan Pangan Anak Terjaga

Suara.com - Makanan yang aman dan bernutrisi merupakan salah satu unsur utama untuk mendukung anak dan keluarga yang sehat. Soal keamanan pangan yang dikonsumsi keluarga, ibu punya peran yang sangat penting.

Menurut data WHO, 1 dari 10 orang di seluruh dunia jatuh sakit setiap tahun karena mengonsumsi makanan yang terkontaminasi. Terlebih, anak berusia di bawah lima tahun memiliki resiko besar terjangkit penyakit yang berhubungan dengan foodborne diseases.

Disampaikan dr. Juwalita Surapsari, M.Gizi, SpGK, Dokter Spesialis Gizi Klinis, makanan yang tidak aman membawa bakteri, virus, parasit berbahaya, serta bahan kimia yang dapat menyebabkan 200 jenis penyakit, termasuk diare. Menurut dia, penyediaan nutrisi dan pemilihan menu makanan setiap hari merupakan salah satu tantangan bagi para ibu.

"lbu perlu untuk lebih memperhatikan keamanan pangan untuk menghindari kontaminasi bakteri yang dapat menimbulkan penyakit bawaan pangan. Selain itu, ketelitian ibu dalam mempersiapkan bahan makanan dengan baik akan bermanfaat untuk menjaga kandungan gizi yang optimal dari makanan yang disajikan karena dapat memengaruhi kesehatan dan masa depan mereka," ujar dr. Juwita dalam Edukasi ’Menu Aman Pilihan lbu, Inspirasi Hidup Sehat Keluarga’ di Jakarta, Rabu (19/12/2018).

Lebih lanjut, dr. Juwalita menambahkan bahwa ada tiga tahap yang perlu diperhatikan ibu dalam menjaga keamanan pangan. Pertama bisa dimulai dari pemilihan bahan pangan segar dan kemasan, penyimpanan pangan yang tepat, dan proses pengolahan dan penyajiannya.

"Ibu harus memilih bahan yang segar dan sehat, perhatikan kondisi dan label pangan kemasan, perhatikan tata cara menyimpan berbagai jenis pangan, perhatikan kebersihan tangan dan alat masak untuk menghindari kontaminasi silang. Setelah itu, penting juga untuk memperhatikan nutrisi seimbang untuk anak yang terdiri dari makronutrien dan mikronutrien," tambah dia.

Berkaitan dengan hal tersebut, Danone Nutricia Sarihusada menyambut datangnya Hari Ibu melalui edukasi berkelanjutan kampanye ‘Pangan Aman Hidup Sehat’ dan berbagi tentang pemilihan, proses, serta penyajian pangan yang tepat dan aman, agar ibu dapat terus memberikan nutrisi terbaik bagi keluarganya.

Disampaikan Arif Mujahidin, Communication Director Danone Indonesia, Kampanye 'Pangan Aman Hidup Sehat' merupakan edukasi berkelanjutan dari Danone Nutricia Sarihusada yang teiah berlangsung sejak 2016.

"Kampanye ini merupakan wujud nyata komitmen kami selaku produsen terhadap konsumen mengenai pangan yang aman agar masyarakat menjadi konsumen yang cerdas dan bijak dalam memilih dan mengonsumsi produk pangan. Pada tahun ini, kami membawa tema 'Menu Aman Pilihan Ibu, Inspirasi Hidup Sehat Keluarga’, sekaligus untuk merayakan datangnya Hari Ibu," tandas dia.

Baca Juga

Let's block ads! (Why?)

Baca Kelanjutan Ibu, Lakukan Ini Agar Keamanan Pangan Anak Terjaga : https://ift.tt/2ECzlGq

Tips Sehat Saat Makan Nasi Padang, Catat Ya!

Suara.com - Nasi padang dan makanan khas Sumatera Barat kerap dilabeli tidak sehat karena tinggi kandungan karbohidrat, lemak , dan santan .

Tak bisa dipungkiri, olahan bumbu santan dengan lauk ikan atau ayam memang enak dimakan. Namun, ada risiko lemak, kolesterol hingga asam urat yang mengintai pecinta nasi padang.

Nyatanya, doyan makan nasi padang tak melulu buruk bagi tubuh. Ada beberapa tips sehat yang bisa kamu coba agar makan nasi padang tetap enak dan sehat.

Bagi kamu yang suka makan nasi padang, jangan lupa masukkan menu sayuran. Daun singkong, timun, dan terong merupakan pilihan sayuran yang tersedia di rumah makan padang.

Perhatian juga porsi nasi yang dimakan. Jika bisa, pesan nasi setengah porsi saja, mengingat nasi di rumah makan padang cenderung banyak.

Perlu diingat bahwa asupan karbohidrat harian seseorang hanya 50 atau 60 persen dari total kalori yang dimakan.

Saat makan, kunyah makanan secara perlahan. Riset membuktikan bahwa mengunyah makanan secara perlahan mengurangi risiko nambah porsi makan, sekaligus memastikan makanan tercerna dengan baik di usus.

Hindari juga makanan dibakar yang sudah gosong, karena ada risiko karsinogen. Lebih baik pilih lauk yang direbus atau dipanggang ya.

Nah, itulah tips sehat makan nasi padang bagi pecinta kuliner. Ingin tahu lebih banyak lagi soal tips sehat, simak di HiMedik ya!

Baca Juga

Let's block ads! (Why?)

Baca Kelanjutan Tips Sehat Saat Makan Nasi Padang, Catat Ya! : https://ift.tt/2UW6y4k

Kenali, 3 Jenis Stres yang Bisa Menyebabkan Kekhawatiran Berlebih

Suara.com - Stres bisa datang dari mana saja. Salah satunya adalah rasa khawatir akan sesuatu, yang bisa saja berlebihan.

Dikatakan dr Andri, SpKJ, dari RS Omni Alam Sutera, penyebab kekhawatiran yang akhirnya menjadi stres terbagi menjadi tiga, yakni stres situasional, stres antisipasi, dan stres residual.

Stres situasional berasal dari kekhawatiran yang berhubungan dengan apa yang terjadi saat ini. Sumbernya pun banyak, bisa tentang kesehatan tubuh, pasangan, atau pekerjaan.

"Biasanya stres jenis ini yang sering dibicarakan menjadi sumber kekhawatiran sehari-hari. Apalagi jika kondisi tidak banyak berubah dan kita pun kesulitan dalam mencoba membantu diri kita melewati stres ini. Hasilnya rasa kekhawatiran itu bisa bertahan lama dan mengganggu kehidupan kita," ungkap dr Andri.

Sementara itu, stres antisipasi adalah kekhawatiran yang dirasakan ketika memikirkan masa depan. Pada pelajar, hal ini bisa berupa nilai ujian. Sementara pada pelamar kerja, bisa jadi soal wawancara kerja yang akan dilakukan.

"Sering kali kita memerlukan keadaan ini, namun jika berlebihan maka hasilnya tidak akan baik. Kita menjadi mudah cemas terhadap segala sesuatu yang belum terjadi. Kita khawatir akan masa depan tetapi lupa dengan masa kini," urainya lagi.

Terakhir adalah stres residual, yang merupakan stres akibat dampak peristiwa di masa lalu. Gangguan Stres Pasca Trauma (PTSD) merupakan contoh gangguan jiwa yang terjadi karena kondisi stres residual.

"Kondisi ini biasanya cukup berat karena walaupun pemicunya sudah berlalu, gejala stresnya bisa timbul dalam bentuk ingatan kembali (flashaback dan reexperience). Sering kali kondisi ini tidak sembuh sendiri tapi harus mendapatkan pertolongan dokter jiwa atau psikolog," tutup dr Andri.

Baca Juga

Let's block ads! (Why?)

Baca Kelanjutan Kenali, 3 Jenis Stres yang Bisa Menyebabkan Kekhawatiran Berlebih : https://ift.tt/2rJwMK1

Angka Perkawinan Anak Mengkhawatirkan, Ini Upaya Pencegahan KPPPA

Suara.com - Sekitar 1 dari 4 anak perempuan di Indonesia menikah pada usia anak atau sebelum mencapai usia 18 tahun. Hal itu dikemukakan oleh Lenny N Rosalin, Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak ( Kemen PPPA ) dalam acara Dialog Publik dan Gerakan Bersama Pencegahan Perkawinan Anak di Jakarta, Selasa (18/12).

Tingginya angka perkawinan anak di Indonesia sudah pada tahap mengkhawatirkan. Indonesia menempati posisi ke-2 di ASEAN dan ke-7 di dunia sebagai negara dengan angka perkawinan anak paling tinggi. Tingginya angka tersebut harus segera disikapi oleh berbagai pihak terutama pemerintah agar tingkat perkawinan anak dapat diturunkan sesuai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2030.

“Dampak perkawinan anak terjadi pada anak lelaki dan perempuan. Namun anak perempuan lebih rentan mengalami kondisi tidak menguntungkan, seperti putus sekolah, hamil pada usia anak yang berpotensi menyumbang terjadinya komplikasi kesehatan reproduksi, angka kematian ibu (AKI), gizi buruk, stunting, pekerja anak, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), perceraian dan berujung pada pemiskinan perempuan secara struktural,” jelas Lenny N Rosalin melalui siaran persnya.

Keseluruhan tersebut menghambat Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan juga capaian Sustainable Development Goals/SDGs. Untuk itulah, praktik perkawinan anak ini harus segera dihentikan. Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan karena anak telah kehilangan hak-hak mereka yang seharusnya dilindungi oleh negara.

Jika kondisi ini dibiarkan akan menjadikan Indonesia berada dalam kondisi 'Darurat Perkawinan Anak'. Oleh karena itu, Kemen PPPA sejak tahun 2016 terus berkolaborasi dengan berbagai lembaga masyarakat, kementerian/lembaga, pemerintah daerah dan jaringan media mencetuskan Gerakan Bersama Pencegahan Perkawinan Anak (GEBER PPA) sebagai upaya bersama untuk menekan angka perkawinan anak.

Menteri PPPA, Yohana Susana Yembise juga menyampaikan bahwa upaya gerakan bersama ditandai dengan hal yang membanggakan. Mahkamah Konstitusi pada Kamis, 13 Desember 2018, telah membacakan putusan atas pengujian Pasal 7 (1) UU Perkawinan mengenai batas usia anak dan memutuskan batas minimal usia perkawinan untuk perempuan harus dinaikkan dari sebelumnya 16 tahun.

“Putusan progresif ini tentu merupakan kemenangan perjuangan pencegahan perkawinan anak untuk anak-anak Indonesia. Dalam putusan ini juga mengamanatkan untuk pemerintah bersama pembentuk Undang-Undang diberi waktu 3 tahun melakukan upaya untuk melaksanakan putusan tersebut. Tentu kerja keras tersebut akan dilakukan bersama, meskipun terdapat banyak tantangan yang luar biasa untuk menghapus praktik perkawinan anak. Sebab, seperti disampaikan oleh Mahkamah Konstitusi, perkawinan anak adalah merupakan bentuk eksploitasi seksual pada anak dan inskonstitusional,” tutur Menteri Yohana.

Baca Juga

Let's block ads! (Why?)

Baca Kelanjutan Angka Perkawinan Anak Mengkhawatirkan, Ini Upaya Pencegahan KPPPA : https://ift.tt/2EvItvB